Tausiyah Islami

Berbagi ilmu dan pengetahuan tentang Islam

Menahan Amarah

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya /a/ah menciptakan langit
dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (Q.S. Ar-Rum: Ayat).

Perbedaan antara manusia itu memang telah diciptakan oleh Allah SWT, dan itu merupakan sifat yang ada pada makhluk hidup. Sebaimana yang ditegaskan dalam firman Allah berikut ini: “Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah.” QS. AI-Hasyr: 14). Wahbah al-Zyhaily mengomentari ayat di atas dengan pernyataan tersebut. Artinya, “Mungkin kamu mengira, mereka itu bersatu, padahal mereka terpecah belah. Kebersamaan yang terjalin hanya lahiriahnya saja, sementara kemauan, hasrat dan pendapat mereka saling bertentangan.” Tafsir al-Munir, Vol. 28, h. 98).

Berangkat dari adanya perbedaan kemauan, keinginan, kepentingan, dan perbedaan-perbedaan lainnya, kita menyadari perlunya pengendalian diri dan bersikap ernpati; Sehingga kita dapat menimbang rasa dan menakar hati orang lain, agar tidak mengecewakan atau membuat orang lain sengsara. Ketika kita dihadapkan pada permasalahan yang tidak kita sukai atau tidak kita inginkan, maka akan terjadi perubahan sikap karena didorong oleh emosi yang meledak di dalam dada. Menahan emosi atau minimal mengendalikan emosi adalah suatu perbuatan terpuji yang merupakan manifstasi dari kepribadian luhur dari seorang mukmin. Di samping itu, Allah Swt menjanjikan pahala yang besar di sisi-Nya bagi orang-orang yang mampu bersabar. Sebagimana hal ini diisyaratkan oleh Nabi Muhammad Saw. dalam hadisnya. Beliau bersabda : “Sabar itu terletak pada awal musibah.” (H.R. AI-Bukhari dan Muslim dari Anas).

Kata musibah dalam hadist di atas secara bahasa berarti musibah yang datang dengan tiba-tiba dan tanpa terduga sebelumnya. Ini artinya, peristiwa kematian yang datang dengan tanpa memberi tahu terlebih dahulu. Kematian datang kepada setiap orang, dengan tiba-tiba. Tentunya, kejadian ini akan menciptakan situasi yang sangat emosional dan menyedihkan.

Terjadinya musibah dalam bentuk apapun dan dalam keadaan bagaimana-pun merupakan bumbu kehidupan yang membuat hidup semakin penuh warna. Untuk itu, kita harus selalu siap menghadapinya, karena dengan musibah, Allah Swt. akan menilai dan mengukurkadarkeimanan hamba-Nya. Sebagimana hal ini ditegaskan dalam firman-Nya : “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi. ?” (QS. AI-Ankabut: 2).

Firman Allah Swt. ini dipertegas oleh sabda Nabi Saw. yang artinya : “Siapa yang dikehendaki Allah untuk dianugrahi kebaikan, maka ia akan diberi cobaan oleh-Nya.” (HR. AI-Bukhari dari Abu Hurairah).

Penguasaan emosi dan pengendalian diri dalam berinteraksi dengan sesama manusia dapat berupa menahan marah. Seseorang boleh saja marah, bahkan pada saat-saat tertentu, mungkin ia wajib marah. Ketika seseorang mendapatkan anaknya yang sudah genap berumur 10 tahun, yang masih saja belum mau mengerjakan shalat wajib, maka sang ayah harus memarahi anaknya, bahkan sampai diizinkan untuk memukulnya. Nabi Saw bersabda : “Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketika mereka berumur 7 tahun dan pukullah ketika mereka berumur 10 tahun, karena melalaikan shalat. ” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim adri Ibn ‘Amr).

Ketika menghadapi suatu permasalahan dalam interaksi sosial, tidak jarang emosi lebih berperan, sehingga emosi lebih dominan daripada rasio. Bila hal itu terjadi, maka akibat lanjutannya adalah perang mulut atau mungkin juga adu fisik. Sekedar adu pandangan mata yang tak sengaja antara dua anak remaja, tapi dibarengi dengan emosi dan harga diri yang bukan pada ukurannya, dapat berlanjut pada perkelahian dan pembunuhan. Yang satu ingin menunjukkan kekuatannya dan yang lain tidak mau kalah. Alangkah baiknya, kalau kedua anak remaja itu sadar, bahwa keakuan dan kekuatan, bukan dipertontonkan dalam konflik fisik dan adu otot, tetapi diukuroleh kemampuan menahan dan merendam amarah. Sebagimana yang disabdakan oleh Nabi Saw. dalam haditsnya : “Bukanlah orang kuat itu yang mempertontonkan otot dalam perkelahian, sesungguhnya orang yang kuat itu adalah orang yang mampu menguasai (emosi) dirinya pada saat ia sedang marah.” (HR. AI-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Hadist ini menunjukkan bahwa melawan emosi yang telah melahirkan hawa nafsu adalah lebih berat daripada melawan musuh secara fisik. Rasulullah Saw. pernah bersabda kepada para sahabatnya tatkala mereka baru pulang dari medan laga. Beliau bersabda : “Kamu baru saja pulang dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar”. Ditanyakan kepada beliau, “Apakah yang dimaksud dengan jihad besar itu.” Beliau, menjawab, “Jihad besar adalah perang melawan emosi dan hawa nafsu.”

Mu’adz bin Anas r.a. meriwayatkan bahwa Nabi Saw. pernah bersabda, “Siapa yang dapat menahan amarahnya pada saat ia mampu dan memungkinkan untuk melampiaskan-nya, maka Allah Swt. past! akan mengundangnya di depan orang-orang banyak pada hari kjamat, dan ia dibebaskan untuk mempersunting bidadari yang menggetarkan hatinya.”(HR. Abu Dawucj dan al-Tirmidzi dari Abu Hurairah r.a.).

Dalam riwayat lainnya disebutkan : “Orang tersebut akan dipenuhi hatinya oleh Allah Swt. dengan rasa aman dan iman”. Sementara dalam riwayat Ibn Umar disebutkan : “Orang yang mampu menahan amarahnya maka Allah Swt. akan menutupi aibnya”.

Tingginya tuntutan hidup membuat setiap orang merasa terpacu untuk berusaha semaksimal mungkin memenuhi tuntutan-tuntutan hidupnya. Hal ini berarti ia berhadapan dengan tantangan hidup. Manusia memang diciptakan sebagai makhluk yang suka mencari tantangan. Tuntutan dan tantangan sebagai sebab akibat yang merupakan hukum alam dan sunahtullah, akan terjalin berberkelindan pada kehidupan manusia. Karena itu, memerangi hawa nafsu dan menahan diri sangat diperlukan ketika terjadi pergumulan antara tuntutan dan tantangan hidup.

Sumber : Risalah Dakwah Mau’izah Hasanah No. 499 th 2008, Jum’at 11 Januari 2008

One comment on “Menahan Amarah

  1. abuanjeli
    31 Januari 2012

    Ijin ikut reblog lagi yaaa… Makasih sebelumnya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 20 Januari 2012 by in Mimbar Jum'at and tagged , .

Kolom Rejeki

Kaos Satuan

Kolom Usaha

Kamus Islam

Tafakur = Perenungan diri
Iitiqomah = Ikhlas
Istighfar = Memohon ampunan kepada Allah
Mustahiq= Golongan yang Berhak Menerima
Zakat = Harta yang Wajib dikeluarkan
Fakir = Sengsara Hidupnya
miskin = Orang yang hidupnya kekurangan
Amil = Orang yang mengumpulkan dana
Muallaf = Orang yang masuk Islam
Hamba sahaya = Orang yang di sebut budak
Gharimin = Orang yang berhutang untuk keluarga
Fisabilillah = Orang yang berjuang di jalan Allah
Ibnu sabil = Orang asing yang tidak memiliki biaya untuk kembali ke tanah airnya

Kaos Satuan

Ruang Tutorial

eBook Store

Galeri eBook harga mulai Rp.10ribu

Kolom Berita

Tembang Islami

Doa Kita

Doa melancarkan rezeki: Laa Haula Walaa Quwwata Illa Billahil 'aliyyil 'adziim (Dibaca 100x tiap malam)

Ayo Mengaji

Bacalah (Iqra’)

Doa Harian

DOA MEMOHON AMPUNAN DAN RAHMAT ALLAH

"Robbanaa dholamnaa anfusanaa wa ilam taghfirlanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal khaasirin"

"Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi".
(QS; 7; Al A'raaf; 23)

Jadwal Shalat


Kalendar Islam

Hari-hari Penting Islam 2015
__________________
Maulid Nabi Muhammad SAW (3 Januari 2015)
Bulan Rajab (20 April 2015)
Hari Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW (16 Mei 2015)
Bulan Suci Ramadhan 1436 (18 Juni 2015)
Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriyah (17-18 Juli 2015)
Hari Raya Idul Adha 1436 Hijriyah (24 September 2015)

Kaos Satuan

Kata-kata Hikmah

Tidak akan terputus rejeki seseorang selama ia tidak meninggalkan doa kepada kedua orang tuanya. Yakini itu dengan keimanan.

Mutiara Hadist

Sesungguh-nya puasa dan bacaan Al Quran memberikan syafaat kepada pelakunya pada hari kiamat - Hadist riwayat Ahmad -

Tausiyah Singkat

“Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.”
(HR. An Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami’ no. 6470).

Baca & Doa Selengkapnya'

Kata Ustadz

Yusuf Mansur Network

PAKAIAN SHALAT PAKAIAN KEHIDUPAN - Wahai saudariku, ketika engkau mendirikan shalat menghadap Allah swt tentu engkau berpakaian lebar dan panjang. Engkau tentu tidak berani berpakaian ketat dan pendek. Engkau tentu tidak berani menampakkan sebagian atau seluruh bagian auratmu, atau menampakkan bentuk lekuk-lekuk tubuhmu. Demikian juga halnya di dalam kehidupan sehari-hari di luar (selain) shalat, tentu engkau pasti tidak berani menentang Allah dan Rasul-Nya. Engkau tahu dan paham, ajaran Islam termasuk cara berbusana tidak hanya diamalkan ketika shalat saja, tapi harus diamalkan dalam segala aktivitas kehidupan. Kata Ustadz Selengkpanya'

Mari Bersilaturahmi

Yang Bersilaturahmi

  • 811,466 hits

Silaturahmi lewat email

Bergabunglah dengan 1.022 pengikut lainnya

Follow Tausiyah Islami on WordPress.com
%d blogger menyukai ini: