Tausiyah Islami

Berbagi ilmu dan pengetahuan tentang Islam

Kisah Tragis Pahlawan Olahraga Indonesia

Beginilah Kisah Tragis Pahlawan Olahraga Indonesia

 

 

 

 

 

 
Ketua YOI, Anjasmara (kiri), menyerahkan tali kasih kepada mantan petinju nasional, Hasan Lobubun, yang kini menjadi pemulung di Jakart


Kisah sedih dan memilukan tak pernah berhenti menimpa sejumlah mantan olahragawan di Tanah Air, yang pernah mengharumkan nama Indonesia di pentas dunia. Kali ini, giliran dua mantan atlet, Wempi Wungau dan Hasan Lobubun, menuturkan nasib tragis mereka ketika sudah pensiun. Dalam acara penerimaan tali kasih sekaligus buka puasa bersama yang digelar Yayasan Olahragawan Indonesia (YOI), Rabu (24/8/11) di Jakarta, mantan binaragawan dan petinju itu berkeluh-kesah. Mereka bercerita tentang nasibnya yang sangat memprihatinkan setelah berulang kali mengibarkan bendera Merah-putih di berbagai event bergengsi.

Juara Binaraga
Wempi, yang beberapa kali menjadi juara binaraga di ajang SEA Games sejak 1989 hingga 1997, mengaku dikhianati. Janji-janji muluk yang diterimanya ketika masih menjadi atlet, tak pernah terwujud hingga sekarang, sehingga dia harus rela jadi penganggur, dan bekerja atas belas kasihan orang-orang tertentu jika mengajaknya sebagai pengawal pribadi.

“Saya pernah dijanjikan untuk kerja, bahkan sudah ikut tes di kantor pemerintah di Gatot Subroto, tetapi tidak pernah dipanggil,” ujar Wempi, yang mengatakan janji tersebut diberikan setelah dirinya meraih medali perak Asian Games 2002 di Busan, Korea Selatan.
Karena tak punya pekerjaan tetap, Wempi merasa sangat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Padahal, hanya demi meraih prestasi, dia sudah menekuni olahraga sejak usia 12 tahun dan rela terlambat menikah. Alhasil, ketika usianya kini sudah 48 tahun, dia masih harus memikirkan tentang nasib anaknya yang paling kecil, yang baru berusia dua bulan.

“Ketika istriku melahirkan putri ketiga dua bulan lalu, saya terpaksa menitipkan KTP di Rumah Sakit Agung Jakarta Selatan, karena harus menyediakan uang Rp 8 juta. Padahal saya tidak punya uang.
“Beruntung, ada teman-teman yang mau membantu, begitu juga dengan saudaraku, sehingga uang itu bisa terkumpul dan saya bisa menebusnya,” jelas Wempi, yang 34 tahun menekuni kariernya sebagai atlet nasional.
Namun, cerita tragis Wempi ini sebenarnya sudah dimulai sejak dia menjadi atlet. Sebagai atlet yang mengharumkan nama bangsa, bukannya dia mendapat bonus yang lebih, malah penghasilannya “disunat” oleh oknum di KONI. Ini yang membuatnya sangat pesimistis bahwa nasib atlet Indonesia bisa bagus.
“Waktu meraih medali perak di Asian Games, seharusnya saya mendapat bonus Rp 150 juta. Tetapi, saya hanya mendapat Rp 100 juta dari Bank Mandiri yang merupakan sponsor,” terangnya.

“Saat pencairan bonus, orang di Bank Mandiri juga sempat kaget karena saya hanya terima Rp 100 juta, karena mereka tahu seharusnya saya dapat Rp 150 juta. Tapi itulah, mungkin kami atlet ini dianggap bodoh, sehingga mereka (oknum di KONI) memotong seenaknya,” tambah Wempi, yang mengaku momen paling indah selama menjadi atlet nasional adalah ketika menyabet perak di Busan.

“Ya, di Busan itu merupakan kenangan paling indah karena meskipun hanya medali perak, tetapi itu adalah sejarah dalam olahraga binaraga Indonesia. Saya sampai menangis ketika pengibaran bendera Merah-putih,” tambahnya.

Mantan petinju jadi pemulung
Jika Wempi tak punya penghasilan tetap karena hanya jadi pengawal pribadi orang-orang tertentu, lain halnya dengan Hasan. Kehidupan mantan juara nasional kelas bantam junior tahun 1987 ini lebih tragis lagi.
Ketika masa jayanya Hasan selalu dipuja dan diperhatikan, kini dia nyaris jadi gelandangan di Jakarta. Bagaimana tidak, Hasan sekarang harus menjalani kehidupan sebagai seorang pemulung. Dari satu tempat ke tempat lain, dia mengais rejeki dari tumpukan barang bekas.
“Saya tiap hari tidur di Mesjid di Tanah Abang 4 karena tidak punya rumah di Jakarta. Rata-rata tiap satu bulan saya pulang ke Bogor untuk menjenguk anak dan istri, yang tinggal di rumah orang tuanya,” jelas Hasan, yang berasal dari Maluku ini.

Bantuan YOI
Wempi dan Hasan mendapat tali kasih dan bingkisan dari YOI, yang diberikan oleh ketua YOI, Anjasmara. Mantan pemain tim nasional sepak bola era 1970-an ini merasa prihatin dengan nasib dua mantan atlet berprestasi tersebut.

Dalam keterangannya, Anjasmara mengatakan bahwa YOI akan selalu memperhatikan nasib atlet tak beruntung. Karena itu, setiap dua bulan mereka akan menggelar acara seperti ini (tali kasih).
Meskipun demikian, pihak YOI mengakui bahwa mereka masih kesulitan mendata para mantan atlet berprestasi yang hidupnya di bawah garis kemiskinan. Pasalnya, alamat mereka (mantan atlet) hampir tak bisa ditemukan.
“Alamat hari ini dan keesokan harinya tak sama. Misalnya hari ini kami datang menengok dan besoknya kembali ke sana, mereka tak bisa ditemui lagi karena sudah pindah. Ini yang membuat kami kesulitan,” ujar anggota YOI, Dirgantoro Soebroto.

Komentar Jalinan Kisah : Semoga mereka (mantan atlet) ada yang memperhatikan. Meraka sudah mengorbankan segalanya buat negara ini dibanding para koruptor.


sumber : kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 26 Agustus 2011 by in Jalinan Kasih and tagged .

Kolom Rejeki

Kaos Satuan

Kolom Usaha

Kamus Islam

Tafakur = Perenungan diri
Iitiqomah = Ikhlas
Istighfar = Memohon ampunan kepada Allah
Mustahiq= Golongan yang Berhak Menerima
Zakat = Harta yang Wajib dikeluarkan
Fakir = Sengsara Hidupnya
miskin = Orang yang hidupnya kekurangan
Amil = Orang yang mengumpulkan dana
Muallaf = Orang yang masuk Islam
Hamba sahaya = Orang yang di sebut budak
Gharimin = Orang yang berhutang untuk keluarga
Fisabilillah = Orang yang berjuang di jalan Allah
Ibnu sabil = Orang asing yang tidak memiliki biaya untuk kembali ke tanah airnya

Kaos Satuan

Ruang Tutorial

eBook Store

Galeri eBook harga mulai Rp.10ribu

Kolom Berita

Tembang Islami

Doa Kita

Doa melancarkan rezeki: Laa Haula Walaa Quwwata Illa Billahil 'aliyyil 'adziim (Dibaca 100x tiap malam)

Ayo Mengaji

Bacalah (Iqra’)

Doa Harian

DOA MEMOHON AMPUNAN DAN RAHMAT ALLAH

"Robbanaa dholamnaa anfusanaa wa ilam taghfirlanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal khaasirin"

"Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi".
(QS; 7; Al A'raaf; 23)

Jadwal Shalat


Kalendar Islam

Hari-hari Penting Islam 2015
__________________
Maulid Nabi Muhammad SAW (3 Januari 2015)
Bulan Rajab (20 April 2015)
Hari Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW (16 Mei 2015)
Bulan Suci Ramadhan 1436 (18 Juni 2015)
Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriyah (17-18 Juli 2015)
Hari Raya Idul Adha 1436 Hijriyah (24 September 2015)

Kaos Satuan

Kata-kata Hikmah

Tidak akan terputus rejeki seseorang selama ia tidak meninggalkan doa kepada kedua orang tuanya. Yakini itu dengan keimanan.

Mutiara Hadist

Sesungguh-nya puasa dan bacaan Al Quran memberikan syafaat kepada pelakunya pada hari kiamat - Hadist riwayat Ahmad -

Tausiyah Singkat

“Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.”
(HR. An Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami’ no. 6470).

Baca & Doa Selengkapnya'

Kata Ustadz

Yusuf Mansur Network

PAKAIAN SHALAT PAKAIAN KEHIDUPAN - Wahai saudariku, ketika engkau mendirikan shalat menghadap Allah swt tentu engkau berpakaian lebar dan panjang. Engkau tentu tidak berani berpakaian ketat dan pendek. Engkau tentu tidak berani menampakkan sebagian atau seluruh bagian auratmu, atau menampakkan bentuk lekuk-lekuk tubuhmu. Demikian juga halnya di dalam kehidupan sehari-hari di luar (selain) shalat, tentu engkau pasti tidak berani menentang Allah dan Rasul-Nya. Engkau tahu dan paham, ajaran Islam termasuk cara berbusana tidak hanya diamalkan ketika shalat saja, tapi harus diamalkan dalam segala aktivitas kehidupan. Kata Ustadz Selengkpanya'

Mari Bersilaturahmi

Yang Bersilaturahmi

  • 811,437 hits

Silaturahmi lewat email

Bergabunglah dengan 1.022 pengikut lainnya

Follow Tausiyah Islami on WordPress.com
%d blogger menyukai ini: