Tausiyah Islami

Berbagi ilmu dan pengetahuan tentang Islam

Tips-tips Menuju Insan Qurani

Al-Qur’an diturunkan Allah kepermukaan bumi agar kiranya manusia memakainya sebagai petunjuk dalam kehidupan. Sehingga kehidupan mereka menjadi terarah dan lurus menuju kepada-Nya. Sebaliknya, orang yang berpaling dan tidak mau menjadikannya sebagai petunjuk dan pembimbing akan menuju jalan yang salah dan tersesat. Al-Qur’an sebagai petunjuk dalam kehidupan ini bukanlah sebatas untuk mendapatkan kebahagian dunia semata, tetapi mencakup kedua aspek, yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat. Jadi sangat berbeda sekali dengan petunjuk-petunjuk yang lain yang terbatas hanya sampai pada dunia semata.

Sebagai pencipta alam semesta ini, Allah Swt sudah mengetahui kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan manusia dipermukaan bumi dalam mengatur, memelihara, mereka. Untuk menjawab itu semua Allah telah membuat peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh manusia. Dimana seluruh aturan tersebut keseluruhannya telah tertuang dalam al-Qur’an. Karena di dalam al-Qur’an tersebut sudah pasti didapatkan petunjuk dan kebahagian, maka Allah menyatakan secara jelas bahwa  ia merupakan petunjuk yang mengantarkan manusia kepada jalan kebenaran dan kebahagiaan. Sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Baqarah ayat 183 yang artinya: “Al-Qur’an adalah petunjuk bagi manusia dan penjelas antara yang hak dan batil”.

Sebagai petunjuk dalam kehidupan maka manusia harus dapat menggali dan menemukan petunjuk-petunjuk itu di dalamnya. Sebab al-Qur’an yang diturunkan tersebut bukan berbentuk dalam bentuk suara seperti kaset, CD, dan lain sebagainya. Namun, bacaan yang harus digali dan dipahami sehingga dapat diambil petunjuk dan bimbingan dari dalamnya.

Paling tidak ada empat pilar sikap yang harus kita lakukan terhadap al-Qur’an sebagai pedoman dalam hidup ini, yaitu:

Pertama, Membacanya. Ini merupakan pilar pertama yang harus dilakukan seseorang untuk dapat menjadikan al-Qur’an sebagai petunjuk dalam kehidupannya. Mungkin perintah untuk membaca ini adalah perintah Allah kepada kita pada pertama kalinya untuk dipenuhi. Seperti disinyalir dalam al-Qur’an surat al-‘Alaq ayat 1, yaitu: “Bacalah dengan nama tuhanmu  yang telah menciptakan.”

Dari ayat ini sangat jelas pesan yang dapat kita tangkap bahwa membaca merupakan langkah pertama yang harus dilakukan dalam menyikapi al-Qur’an sebagai petunjuk dalam hidup ini. Sekalipun yang dibaca itu tidak selalu yang harus tersurat, namun ada juga ayat yang tersirat yang tentunya tidak kalah pentingnya.

Ada sebuah fenomena umum yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita di zaman modern ini. Padahal fasilitas untuk belajar sudah sangat lengkap. Guru-guru yang mengajar membaca al-Qur’an sudah begitu banyaknya. Bentuk-bentuk pengajian dimana-mana menjamur. Namun ironisnya, tetap juga ada yang tidak pandai membaca al-Qur’an. Ini sebuah penyakit masyarakat kita yang sangat berbahaya yang harus dihindari sejauh mungkin.

Kedua, Memahami maknanya. Bagi seorang muslim yang sudah dapat membaca al-Qur’an dengan baik sudah seharusnya lebih mendalaminya dengan mengetahui makna al-Qur’an. Sehingga dengan demikian  akan memberikan kesan dan dampak yang positif bagi pembacanya.

Allah Swt mempertanyakan kepada kita dalam surat al-Nisa’ ayat 82, yang artinya: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak.”

Ayat di atas, merupakan bentuk pertanyaan Allah kepada seluruh manusia, agar kiranya mereka dapat menggunakan seluruh potensi dalam dirinya dalam rangka memahami dan mengambil inti sari nilai-nilai yang dikandung oleh al-Qur’an. Namun, cukup disayangkan banyak yang mengaku sebagai umat Islam dan al-Qur’an sebagai kitab sucinya. Tetapi ternyata al-Qur’an maupun terjemahannya tidak dimiliki sama sekali. Sedangkan mereka yang di luar agama kita sangat bangga membawa dan memegang kitab sucinya pada saat ke rumah ibadah mereka. Tentunya ini suatu hal yang harus mendapat perhatian dan disadari penuh oleh umat Islam secara keseluruhan untuk menumbuhkan kecintaan kepada al-Qur’an.

Ketiga, Mengamalkannya. Seorang muslim yang memahami betul tuntunan agama, maka pada saat ia mempunyai ilmu tentang sesuatu tidak ada alasan untuk tidak mengerjakan pengetahuannya tersebut. Demikian juga halnya ketika kita sudah dapat membaca dan memahami al-Qur’an. Maka selanjutnya adalah mengamalkan isi al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Baik itu secara pribadi, keluarga, maupun pada tataran masyarakat. Dengan demikian, al-Qur’an itu akan hidup di tengah-tengah masyarakat. Apabila sudah tercipta kondisi seperti itu tentu tidak akan mungkin ada lagi kekecauan, pencurian, perzinaan, dan lain sebagainya. Jadi, dengan kata lain pada tataran ketiga ini kita ingin menciptakan “insan-insan qur’ani”, yang tidak hanya mengetahui hukum-hukum Allah atau sebatas pengetahuan semata. Tetapi juga masuk pada tataran praktis yaitu adanya action terhadap perintah dan larangan dalam al-Qur’an.

Pada hakikatnya inilah yang menjadi sasaran utama al-Qur’an diturunkan. Terjadi sebuah gelombang perobahan besar yang sangat mendasar di tengah masyarakat jahiliyah yang begitu bejat. Perkembangan teknologi, arus lajunya perkembangan budaya yang sudah menyatu antara Timur dan Barat tidak dapat lagi dielakkan. Namun untuk membendung diri, keluarga, masyarakat dengan hal-hal yang negatif maka al-Qur’an merupakan alternatif yang pasti.

Keempat, Mendakwahkannya. Selanjutnya pilar terakhir yang harus diindahkan adalah mendakwahkan atau menyampaikan al-Qur’an kepada orang lain. Karena tidak menutup kemugkinan ada sebahagian saudara-saudara kita yang belum mengetahui apa yang telah kita ketahui. Atau memang mereka tidak mau, enggan, atau melalaikan diri untuk memenuhi seruan perintah Allah. Maka ini merupakan medan dakwah bagi mereka yang sudah sampai pada pilar ketiga dalam menyikapi al-Qur’an. Dalam arti bukan membatasi umat Islam untuk berdakwah  tetapi alangkah lebih baiknya mereka yang berdakwah adalah mereka yang sudah mengamalkan al-Qur’an. Sebab mendakwahi seseorang padahal dia sendiri pun tidak melakukanya tidak obahnya seperi makna pilosofis “lilin”, orang diterangi tetapi akhirnya gelap sendiri.

Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam surat Fushshilat ayat 33,yang artinya: siapakah yang paling baik perkataannya daripada orang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata”sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri (muslimin)”, bahwa melakukan dakwah merupakan bahagian dari perintah Allah sangat mulia.

Sehingga perkataan yang paling baik itu disisi Allah hanyalah “dakwah” tidak lain dari itu. Agaknya penghargaan yang begitu tinggi terhadap dakwah tidak lain karena dakwah sebagai media untuk mengembangkan sekaligus mempertahankan ajaran tauhid yang telah dibawa dan dikembangkan oleh Rasulullah Saw.

Penutup
Sebagai seorang muslim yang mengaku bahwa al-Qur’an sebagai petunjuk hidupnya maka keempat poin pilar di atas merupakan kewajiban kita untuk mengimplementasikannya di tengah-tengah masyarakat. Tidak lagi terbatas seperti anggapan sebahagian orang hanya menjadikan al-Qur’an sebagai  suplementer atau pelengkap dalam kehidupan. Terciptanya keamanan dan ketentraman di dunia hanya akan tercipta manakala al-Qur’an dan spirit yang dikandungnya dijadikan sebagai petunjuk dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

WATNI MARPAUNG Penulis adalah Dosen Fakultas Syariah IAIN SU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kolom Rejeki

Kaos Satuan

Kolom Usaha

Kamus Islam

Tafakur = Perenungan diri
Iitiqomah = Ikhlas
Istighfar = Memohon ampunan kepada Allah
Mustahiq= Golongan yang Berhak Menerima
Zakat = Harta yang Wajib dikeluarkan
Fakir = Sengsara Hidupnya
miskin = Orang yang hidupnya kekurangan
Amil = Orang yang mengumpulkan dana
Muallaf = Orang yang masuk Islam
Hamba sahaya = Orang yang di sebut budak
Gharimin = Orang yang berhutang untuk keluarga
Fisabilillah = Orang yang berjuang di jalan Allah
Ibnu sabil = Orang asing yang tidak memiliki biaya untuk kembali ke tanah airnya

Kaos Satuan

Ruang Tutorial

eBook Store

Galeri eBook harga mulai Rp.10ribu

Kolom Berita

Tembang Islami

Doa Kita

Doa melancarkan rezeki: Laa Haula Walaa Quwwata Illa Billahil 'aliyyil 'adziim (Dibaca 100x tiap malam)

Ayo Mengaji

Bacalah (Iqra’)

Doa Harian

DOA MEMOHON AMPUNAN DAN RAHMAT ALLAH

"Robbanaa dholamnaa anfusanaa wa ilam taghfirlanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal khaasirin"

"Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi".
(QS; 7; Al A'raaf; 23)

Jadwal Shalat


Kalendar Islam

Hari-hari Penting Islam 2015
__________________
Maulid Nabi Muhammad SAW (3 Januari 2015)
Bulan Rajab (20 April 2015)
Hari Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW (16 Mei 2015)
Bulan Suci Ramadhan 1436 (18 Juni 2015)
Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriyah (17-18 Juli 2015)
Hari Raya Idul Adha 1436 Hijriyah (24 September 2015)

Kaos Satuan

Kata-kata Hikmah

Tidak akan terputus rejeki seseorang selama ia tidak meninggalkan doa kepada kedua orang tuanya. Yakini itu dengan keimanan.

Mutiara Hadist

Sesungguh-nya puasa dan bacaan Al Quran memberikan syafaat kepada pelakunya pada hari kiamat - Hadist riwayat Ahmad -

Tausiyah Singkat

“Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.”
(HR. An Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami’ no. 6470).

Baca & Doa Selengkapnya'

Kata Ustadz

Yusuf Mansur Network

PAKAIAN SHALAT PAKAIAN KEHIDUPAN - Wahai saudariku, ketika engkau mendirikan shalat menghadap Allah swt tentu engkau berpakaian lebar dan panjang. Engkau tentu tidak berani berpakaian ketat dan pendek. Engkau tentu tidak berani menampakkan sebagian atau seluruh bagian auratmu, atau menampakkan bentuk lekuk-lekuk tubuhmu. Demikian juga halnya di dalam kehidupan sehari-hari di luar (selain) shalat, tentu engkau pasti tidak berani menentang Allah dan Rasul-Nya. Engkau tahu dan paham, ajaran Islam termasuk cara berbusana tidak hanya diamalkan ketika shalat saja, tapi harus diamalkan dalam segala aktivitas kehidupan. Kata Ustadz Selengkpanya'

Mari Bersilaturahmi

Yang Bersilaturahmi

  • 811,437 hits

Silaturahmi lewat email

Bergabunglah dengan 1.022 pengikut lainnya

Follow Tausiyah Islami on WordPress.com
%d blogger menyukai ini: